ByKlik.com | Banda Aceh – Tumbuh di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) di Kabupaten Aceh Singkil membentuk karakter tangguh seorang mahasiswa Ilmu Keperawatan yang berhasil menembus perguruan tinggi ternama nasional. Keterbatasan akses pendidikan dan fasilitas kesehatan di daerahnya tak menjadi penghalang untuk meraih mimpi.
Berasal dari kawasan yang infrastruktur dan layanannya masih terbatas, Maudatinur sejak kecil telah akrab dengan berbagai kekurangan. Akses informasi, fasilitas belajar, hingga layanan kesehatan tidak semudah yang dirasakan masyarakat di kota besar. Namun, kondisi itu justru menumbuhkan tekad kuat untuk keluar dari lingkaran keterbatasan.
Ketertarikannya pada dunia keperawatan lahir dari pengalaman pribadi yang membekas. Dalam rentang waktu satu tahun, ia kehilangan kedua orang tuanya setelah kondisi kesehatan mereka memburuk secara cepat. “Saya sempat merasa panik dan tidak tahu harus berbuat apa. Sejak itu saya sering bertanya, kenapa penyakit bisa datang tiba-tiba dan bagaimana cara mencegahnya,” ujar Maudatinur seperti dirilis Instagram Universitas Indonesia, Minggu, 16 Februari 2026.
Peristiwa tersebut menjadi titik balik. Ia memutuskan mengambil jurusan Ilmu Keperawatan dengan harapan kelak mampu membantu keluarga lain agar lebih siap menjaga kesehatan orang-orang tercinta. Baginya, edukasi dan pencegahan adalah kunci, terutama di daerah yang akses kesehatannya masih terbatas.
Perjalanan akademiknya pun tidak mudah. Ia harus menyelesaikan pendidikan dalam waktu 3,5 tahun dengan ritme pembelajaran yang cepat dan tuntutan akademik tinggi. Persaingan antarmahasiswa menjadi tantangan tersendiri. Namun, ia memilih menghadapi tekanan itu dengan disiplin dan strategi belajar yang konsisten.
“Saya selalu berusaha menyelesaikan tugas satu hari lebih cepat dari tenggat. Cara sederhana, tapi membuat saya lebih siap dan tidak menumpuk pekerjaan,” katanya.
Kesempatan melanjutkan pendidikan di Universitas Indonesia melalui jalur afirmasi berbasis nilai rapor menjadi momentum penting dalam hidupnya. Jalur afirmasi tersebut memberi ruang bagi putra-putri daerah 3T untuk mendapatkan akses pendidikan tinggi yang lebih luas.
Ia menyebut kesempatan itu sebagai amanah, bukan sekadar kebanggaan pribadi. “Ini bukan hanya tentang saya masuk kampus impian, tetapi tentang tanggung jawab untuk kembali dan membawa manfaat bagi daerah asal,” tuturnya.
Kini, setelah menempuh pendidikan, ia bertekad kembali ke Aceh Singkil untuk mengabdi. Ia ingin berkontribusi meningkatkan literasi kesehatan masyarakat serta memperkuat layanan keperawatan di wilayah yang masih menghadapi berbagai keterbatasan.
Kisahnya menjadi gambaran bahwa anak-anak dari daerah tertinggal memiliki potensi yang sama untuk bersaing di tingkat nasional. Jarak geografis dan minimnya fasilitas bukanlah akhir dari segalanya. Dengan tekad, disiplin, dan akses yang tepat, generasi muda dari wilayah 3T mampu menembus batas dan kembali membangun tanah kelahiran mereka.











