Pendidikan & Karier

Dinas Pendidikan Dayah Aceh Bahas Bahas Program Pemulihan Dengan Dua Lembaga Ini

Avatar
×

Dinas Pendidikan Dayah Aceh Bahas Bahas Program Pemulihan Dengan Dua Lembaga Ini

Sebarkan artikel ini
Plh Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Muhsin, S.Pd.I., M.Pd.I.menerima silaturahmi Yayasan Aceh Hijau bersama Yayasan Dana Sosial Al-Falah (YDSF) Surabaya di Banda Aceh, Kamis, 22 Januari 2026. Foto: Dok. Byklik.com

Byklik.com | Banda Aceh – Pelaksana Harian (Plh.) Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Muhsin,  M.Pd.I., didampingi para staf menerima silaturahmi dan audiensi Yayasan Aceh Hijau bersama Yayasan Dana Sosial Al-Falah (YDSF) Surabaya. Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Rapat Lantai II DPDA, Kamis, 22 Januari 2026.

Audiensi ini membahas berbagai program pemulihan dan pemberdayaan dayah pascabencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Aceh. Bencana tersebut berdampak pada rusaknya sarana dan prasarana dayah serta mempengaruhi kondisi psikologis dan sosial santri.

Dalam pertemuan tersebut, disampaikan sejumlah poin program prioritas yang dibutuhkan dayah pascabencana, antara lain penyediaan sanitasi dan air bersih, perbaikan sarana dan prasarana dayah, dukungan bagi anak yatim di dayah perbatasan, pemberdayaan ekonomi santri, serta program penyembuhan trauma (trauma healing) bagi santri.

Plh Kadis Pendidikan Dayah Aceh, Muhsin, menegaskan bahwa kebutuhan sanitasi dan air bersih merupakan program sangat mendesak, karena berpengaruh langsung terhadap kesehatan santri dan kelangsungan aktivitas pendidikan dayah.

Baca Juga  Mahasiswa FKH USK Gelar Pengabdian Kesehatan Hewan di Pulo Aceh

“Pascabencana, banyak dayah mengalami kerusakan fasilitas sanitasi dan jaringan air bersih. Kondisi ini sangat berdampak pada kesehatan santri. Oleh karena itu, program sanitasi dan air bersih menjadi kebutuhan utama yang harus segera dipenuhi,” ujar Muhsin.

Selain itu, Muhsin menyampaikan bahwa perbaikan sarana dan prasarana dayah seperti ruang belajar, asrama, dan fasilitas pendukung lainnya juga menjadi perhatian penting agar proses belajar mengajar dapat kembali berjalan secara optimal. Ia juga menyoroti pentingnya perhatian khusus bagi anak yatim di dayah perbatasan, yang membutuhkan dukungan berkelanjutan baik dari sisi pendidikan maupun kesejahteraan.

Lebih lanjut, Muhsin menjelaskan bahwa pemberdayaan ekonomi santri menjadi bagian strategis dalam memperkuat kemandirian dayah, sekaligus membekali santri dengan keterampilan produktif. Di samping itu, program penyembuhan trauma bagi santri dinilai penting untuk memulihkan kondisi psikologis santri agar dapat kembali belajar dengan nyaman dan tenang pascabencana.

Baca Juga  Pemerintah Percepat Pembangunan Hunian Pascabencana di Sumatra

“Pemulihan dayah tidak hanya sebatas pembangunan fisik, tetapi juga menyentuh aspek sosial, ekonomi, dan psikologis santri. Program pemberdayaan ekonomi dan trauma healing sangat diperlukan agar santri dapat bangkit dan kembali fokus menuntut ilmu,” tambahnya.

Muhsin menyambut baik kepedulian serta komitmen Yayasan Aceh Hijau dan YDSF Surabaya dalam mendukung pemulihan dan pemberdayaan dayah di Aceh. Ia berharap audiensi ini dapat ditindaklanjuti melalui kerja sama yang konkret, terarah, dan berkelanjutan.

Audiensi tersebut diakhiri dengan diskusi mengenai pemetaan kebutuhan dayah terdampak, mekanisme pelaksanaan program, serta peluang kolaborasi jangka panjang dalam rangka mendukung pemulihan dan penguatan pendidikan dayah di Aceh, khususnya di wilayah perbatasan dan daerah terdampak bencana.[]