Ekonomi & Bisnis

Aceh Deflasi Februari, Perdagangan Tetap Surplus

Avatar
×

Aceh Deflasi Februari, Perdagangan Tetap Surplus

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi. [Foto: Starline/Freepik]

Byklik.com | Banda Aceh — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh umumkan terjadi deflasi sebesar 0,24 persen secara bulanan (month-to-month/m-to-m) pada Februari 2026. Deflasi tersebut berdasarkan hasil pemantauan di lima kabupaten/kota, yakni Aceh Tengah, Meulaboh, Aceh Tamiang, Banda Aceh, dan Lhokseumawe.

Dalam siaran pers yang dirilis pada Senin, 2 Maret 2026 ini juga disebutkan penurunan harga itu tercermin dari turunnya Indeks Harga Konsumen (IHK). Secara tahunan (year-on-year/y-on-y), Aceh justru masih mencatat inflasi sebesar 6,94 persen.

Kelompok pengeluaran yang memberikan andil terbesar terhadap deflasi secara m-to-m adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok ini mengalami deflasi sebesar 0,96 persen dengan kontribusi terhadap deflasi sebesar 0,38 persen.

Sementara itu, secara tahunan, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang inflasi terbesar. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 16,98 persen dengan kontribusi sebesar 2,37 persen terhadap inflasi y-on-y.

Baca Juga  Kunjungan Wisatawan ke Aceh Melonjak, Capai 7,3 Juta di Awal 2025

Komoditas yang dominan menyumbang deflasi secara bulanan antara lain bawang merah, cabai rawit, bahan bakar rumah tangga, telur ayam ras, dan ikan tongkol. Sedangkan komoditas yang paling berpengaruh terhadap inflasi tahunan adalah tarif listrik, emas perhiasan, beras, nasi dengan lauk, dan daging ayam ras.

Secara y-on-y, inflasi terjadi di seluruh wilayah penghitungan. Inflasi tertinggi tercatat di Aceh Tengah sebesar 8,44 persen. Secara m-to-m, Meulaboh dan Kota Banda Aceh mengalami inflasi, sedangkan Aceh Tengah, Aceh Tamiang, dan Lhokseumawe mengalami deflasi.

BPS juga mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Aceh pada Februari 2026 mencapai 125,21 atau naik 0,03 persen dibandingkan Januari 2026. Kenaikan ini menunjukkan daya beli petani relatif terjaga.

Indeks Harga yang Diterima Petani (It) tercatat sebesar 154,72 atau turun 0,14 persen dibanding bulan sebelumnya. Penurunan ini dipengaruhi oleh turunnya harga gabah, kakao biji, dan cabai rawit.

Baca Juga  Polres Aceh Utara bersama Pemkab Panen Raya Jagung di Baktiya

Adapun Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 123,56 atau turun 0,17 persen dibanding Januari 2026. Penurunan Ib terutama disebabkan oleh turunnya harga bawang merah, telur ayam ras, dan cabai rawit.

Dari sektor perdagangan luar negeri, neraca perdagangan Aceh pada Januari 2026 tercatat surplus sebesar US$17,86 juta. Nilai ekspor mencapai US$47,58 juta, lebih tinggi dibandingkan impor sebesar US$29,73 juta.

Ekspor Aceh didominasi komoditas batubara senilai US$40,97 juta atau 86,12 persen dari total ekspor. India menjadi negara tujuan utama dengan nilai ekspor US$41,35 juta, disusul Jepang dan Amerika Serikat.

Sementara itu, kunjungan wisatawan mancanegara ke Aceh pada Januari 2026 tercatat 3.666 kunjungan atau turun 24,19 persen dibanding Desember 2025. Jumlah penumpang angkutan udara dan laut juga mengalami penurunan secara bulanan, mencerminkan perlambatan aktivitas transportasi pada awal tahun.