
Gua Ek Leuntie berjarak sekitar 60 km dari Banda Aceh. Berada di jalur lintasan jalan nasional Banda Aceh–Meulaboh dan menghadap langsung ke laut. Kawasan tersebut sudah dibatasi dengan pagar permanen yang memiliki ornamen “ombak” berwarna biru.


Dari luar, gua ini tampak biasa saja. Pintu masuknya nyaris tak terlihat karena tertutup oleh vegetasi di sekitarnya. Ceruk gua juga tidak terlalu besar dan tidak membutuhkan banyak tenaga untuk menyusurinya. Namun, berdasarkan penelitian ilmuwan, termasuk dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan tim internasional, mengungkap bahwa gua ini menyimpan “keistimewaan” berupa lapisan endapan pasir yang terbawa oleh tsunami yang terjadi secara berulang selama ribuan tahun.

Mengutip penjelasan pada situs sejarah.dibi.bnpb.go.id, berdasarkan bukti perulangan stratigrafi dari endapan tsunami purba dalam Guha Ek Leuntie menunjukan setidaknya terdapat 11 bukti tsunami pada masa prasejarah yang melanda pantai Aceh antara 7400 sampai 2900 tahun yang lalu. Rentang waktu rata-rata antara satu kejadian dengan kejadian tsunami berikutnya adalah sekitar 450 tahun, sedangkan interval yang terlama dengan periode tanpa kejadian (dorman) di atas 2000 tahun dan interval yang terpendek terdapat beberapa kali kejadian tsunami dalam rentang waktu satu abad.

Lapisan-lapisan tersebut dipisahkan oleh lapisan guano (kotoran) kelelawar dan menjadi arsip alami tsunami. Setiap lapisan pasir terbentuk ketika tsunami datang, mengalir masuk ke gua, kemudian mengendap saat air laut surut. Pemerintah Aceh dan Badan Penganggulangan Bencana berupaya menjadikan situs ini bagian dari kawasan geopark atau museum alam, sekaligus sebagai tempat edukasi mitigasi bencana. Gua ini pada dasarnya adalah “rumah” kelelawar atau leuntie (bahasa Aceh) tak heran jika aroma pesing yang menyengat langsung menyapa penciuman kita saat mendekati mulut gua. Saat berada di dalam gua, akan terdengar decit suara kelelawar yang bersembunyi di celah-celah gua. 












