Teknologi & Sains

Pemerintah Tegaskan AI Tak Boleh Dikuasai Segelintir Elite

Avatar
×

Pemerintah Tegaskan AI Tak Boleh Dikuasai Segelintir Elite

Sebarkan artikel ini
Wamenkomdigi Nezar Patria dalam acara Official Pre-Summit Event: India-AI Impact Summit 2026 di Hotel Le Meridien, Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu, 21 Januari 2026. [Foto: Pey HS/Komdigi]

ByKlik.com | Jakarta — Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa kecerdasan artifisial (AI) tidak boleh menjadi teknologi eksklusif yang dikuasai segelintir pihak. Negara memilih hadir sejak awal melalui kebijakan, investasi publik, dan kerja sama strategis agar AI benar-benar memberi manfaat nyata dan merata bagi masyarakat.

Penegasan itu disampaikan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria dalam Official Pre-Summit Event: India–AI Impact Summit 2026 di Jakarta Pusat, Rabu, 21 Januari 2026.

“Revolusi digital yang didukung kecerdasan artifisial harus berfungsi sebagai kekuatan untuk kesetaraan, keberlanjutan, dan pertumbuhan yang inklusif,” tegas Nezar.

Menurutnya, Indonesia dan India berada pada posisi strategis yang serupa karena sama-sama mengalami lonjakan ekonomi digital. Skala pertumbuhan tersebut membuka peluang besar bagi pemanfaatan AI untuk menyelesaikan persoalan publik, bukan semata mengejar kemajuan teknologi.

“Ini bukan hanya soal skala, tetapi peluang bersama untuk menerapkan solusi AI yang menjawab tantangan nasional paling mendesak, mulai dari inklusi keuangan hingga ketahanan iklim,” ujarnya.

Nezar menekankan, manfaat AI hanya akan dirasakan luas apabila negara berinvestasi pada fondasi yang tepat. Indonesia saat ini tengah menyiapkan Peta Jalan Nasional Kecerdasan Artifisial yang menempatkan etika, desain berpusat pada manusia, serta pengembangan talenta sebagai prioritas menuju Indonesia Emas 2045.

Baca Juga  USK–GoTo Teken MoU, Apa Dampaknya untuk Mahasiswa?

Dalam konteks global, ia menilai pengalaman India melalui IndiaAI Mission memberikan pelajaran penting, khususnya dalam membuka akses komputasi dan data berkualitas agar inovasi AI tidak mahal dan tidak elitis.

“Pendekatan holistik ini adalah model yang ampuh bagi Indonesia,” katanya.

Ia menegaskan, investasi publik pada infrastruktur AI menjadi kunci agar startup, peneliti, dan talenta di daerah dapat berpartisipasi secara setara dalam ekosistem inovasi.

“Pelajaran bagi Indonesia jelas: investasi publik strategis pada infrastruktur AI fundamental adalah kunci untuk membuka inovasi yang luas dan inklusif,” tegas Nezar.

Selain aspek inklusivitas, Nezar juga menyoroti pentingnya membangun AI berdaulat untuk melindungi kepentingan nasional dan data warga. AI harus dibangun, diatur, dan diterapkan dengan memanfaatkan data, talenta, serta infrastruktur nasional agar solusi yang dihasilkan relevan secara budaya dan aman digunakan.

“Nota kesepahaman ini adalah cetak biru kita untuk bertindak,” ujarnya, merujuk pada kerja sama Indonesia–India yang menetapkan AI dan Infrastruktur Publik Digital sebagai prioritas.

Baca Juga  Alumni Madrasah Ciptakan Tempat Sampah Pintar Berbasis AI

Tak hanya perangkat lunak, Nezar juga menekankan pentingnya penguatan rantai pasok teknologi dasar. Indonesia dan India dinilai memiliki posisi saling melengkapi dalam pengembangan industri semikonduktor.

“Indonesia dengan kekayaan sumber daya mineralnya, dan India dengan misi semikonduktor yang ambisius, memiliki peluang unik untuk membangun rantai pasokan ujung-ke-ujung yang tangguh,” jelasnya.

Menutup pernyataannya, Nezar menegaskan bahwa pilihan kebijakan hari ini akan menentukan siapa yang menikmati manfaat AI di masa depan.

“Masa depan AI sedang ditulis di Asia, dan kemitraan Indonesia–India akan menjadi babak yang menentukan,” tandasnya.

Dialog ini menjadi bagian dari persiapan menuju AI Impact Summit 2026 serta menegaskan komitmen Indonesia agar pengembangan AI berjalan seiring dengan kepentingan publik, perlindungan data, dan pemerataan manfaat teknologi.

Acara tersebut turut dihadiri Duta Besar India untuk Indonesia Sandeep Chakravorty, President Director and CEO Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha, Direktur Infrastruktur Ekosistem dan Keamanan Digital Kementerian PPN/Bappenas Andianto Haryoko, serta Partner dan Country Head MSC Southeast Asia Grace Retnowati.