ByKlik.com | Karang Baru — Harapan baru mulai bersemi bagi ratusan penyintas bencana di Aceh Tamiang. Setelah hampir dua bulan hidup di tenda darurat, mereka kini bersiap menyambut bulan suci Ramadan dengan tempat tinggal yang lebih layak, aman, dan manusiawi.
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menegaskan komitmen pemerintah untuk memastikan tidak ada lagi warga terdampak bencana yang menjalani Ramadan di tenda pengungsian. Target tersebut dikejar seiring rampungnya pembangunan hunian sementara (huntara) di Kecamatan Karang Baru yang telah mencapai progres 98,75 persen.
“Kita ingin masyarakat, terutama para penyintas, bisa menjalankan ibadah Ramadan dengan tenang. Jangan lagi ada yang sahur atau berbuka di tenda darurat,” ujar Menteri Dody saat meninjau langsung lokasi huntara, Selasa, 20 Januari 2026.
Bagi warga terdampak, huntara bukan sekadar bangunan fisik. Ia menjadi simbol pemulihan martabat dan titik awal kembali menata kehidupan pascabencana. Selama ini, keterbatasan ruang, cuaca ekstrem, dan minimnya fasilitas di tenda pengungsian kerap mengganggu kenyamanan, termasuk dalam menjalankan ibadah.
Huntara Aceh Tamiang dibangun dengan metode konstruksi modular Modular Lite (MOLI), memungkinkan pengerjaan cepat tanpa alat berat di tengah kondisi darurat. Pembangunan ini merupakan bagian dari paket Penanganan Keadaan Darurat Pascabencana Aceh 1.
Secara teknis, Huntara 1 berdiri di atas lahan seluas 5.427 meter persegi, dengan total luas bangunan 2.052 meter persegi. Terdapat tujuh blok hunian dan sebuah mushola, dengan 114 modul yang mampu menampung 84 kepala keluarga atau sekitar 336 jiwa. Fasilitas pendukung seperti 42 unit MCK, area komunal, tempat jemur, genset, toren air, hingga akses listrik PLN disiapkan untuk memastikan kebutuhan dasar penyintas terpenuhi.
Sistem air bersih berasal dari sumur bor dan tandon, sementara pengolahan air limbah menggunakan sistem biotek, sehingga lingkungan huntara tetap sehat dan layak huni.
Menteri Dody menegaskan, percepatan penyelesaian huntara sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar penanganan pascabencana tidak berhenti pada pembangunan fisik semata.
“Ini soal rasa aman dan ketenangan batin masyarakat. Terutama di Aceh dan Sumatera Barat yang mayoritas Muslim, negara hadir agar penyintas tetap bisa menjalani Ramadan dengan khusyuk meski baru saja tertimpa bencana,” tegasnya.
Dengan segera ditempatinya huntara, para penyintas di Aceh Tamiang diharapkan dapat memulai Ramadan tanpa kecemasan akan hujan, panas, atau keterbatasan ruang—sebuah langkah kecil namun bermakna dalam proses panjang pemulihan kehidupan mereka.











