Byklik.com | Lhoksukon — Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil (Ayah Wa) mendorong percepatan pembangunan hunian sementara (Huntara) agar para pengungsi banjir tidak terlalu lama bertahan di tenda darurat, terlebih menjelang bulan Ramadan. Hal itu disampaikannya pada Ahad, 11 Januari 2026.
Bupati menegaskan, pembangunan Huntara ditargetkan selesai sebelum Ramadan sebagai bagian dari upaya pemulihan awal pascabencana. “Kita berharap pembangunan hunian sementara segera dimulai dan dipercepat agar masyarakat bisa beribadah dengan lebih layak dan tenang,” ujar Ayah Wa.
Selain Huntara, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara juga merencanakan pembangunan hunian tetap (Huntap) komunal di tujuh kecamatan, yakni Tanah Jambo Aye, Lapang, Seuneddon, Dewantara, Baktiya, Langkahan, dan Sawang, dengan total 16 lokasi. Sementara Huntara direncanakan dibangun di tujuh kecamatan dengan 20 titik lokasi.
Pembangunan Huntara telah dimulai melalui kolaborasi Rumah Zakat bersama Bulak Sumur Peduli, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Tangguh Research Group on Resilient Architecture. Program pembangunan 100 Huntara tersebut ditandai dengan kegiatan pembukaan di Gampong Geudumbak, Kecamatan Langkahan.
“Pembangunan Huntara dilakukan secara bertahap dan melibatkan masyarakat setempat agar semangat gotong royong dan kemandirian ekonomi warga pascabencana dapat tumbuh,” kata Ayah Wa.
Sementara itu, di Gampong Kuala Cangkoy, Kecamatan Lapang, pemerintah pusat akan membangun 104 unit Huntap di atas lahan seluas 2,2 hektare milik Pemerintah Kabupaten Aceh Utara. Pembangunan Huntap tersebut juga ditargetkan rampung sebelum Ramadan.
Hingga saat ini, Kabupaten Aceh Utara masih berstatus tanggap darurat bencana banjir yang diperpanjang selama 14 hari hingga 24 Januari 2026, berdasarkan hasil evaluasi bersama Forkopimda akibat banjir susulan di sejumlah wilayah.
Berdasarkan data sementara BPBD Aceh Utara per 8 Januari 2026 pukul 10.00 WIB, banjir berdampak pada 124.549 kepala keluarga atau 433.064 jiwa, dengan 19.047 KK atau 67.876 jiwa mengungsi di 210 titik. Korban meninggal tercatat sebanyak 230 orang, sementara ribuan lainnya mengalami luka-luka serta kerusakan besar pada permukiman, lahan pertanian, dan infrastruktur publik.











