Byklik.com | Banda Aceh — Bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh tidak hanya merusak rumah dan infrastruktur, tetapi juga menghantam jantung masa depan Aceh: sarana pendidikan. Data Posko Terpadu Pemerintah Aceh mencatat, hingga 1 Januari 2026 pukul 20.00 WIB, sebanyak 1.004 unit sekolah dan 670 unit pesantren terdampak bencana, dengan ratusan di antaranya mengalami kerusakan berat.
“Bencana ini tidak hanya merusak rumah dan infrastruktur, tetapi juga menghantam masa depan anak-anak Aceh. Ketika sekolah dan pesantren rusak berat, maka yang terancam bukan sekadar bangunan, melainkan keberlanjutan pendidikan dan perlindungan anak di wilayah terdampak,” tegas uru Bicara Posko Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh, Murthalamuddin, Jumat (2/1/2026).
Kondisi ini menempatkan sektor pendidikan sebagai salah satu korban paling serius dalam bencana berskala luas tersebut. Dari total sekolah terdampak, 286 unit rusak berat, sementara 399 rusak sedang dan 319 rusak ringan. Situasi serupa terjadi di pesantren, di mana 117 unit mengalami rusak berat dan 493 rusak sedang, mengancam keberlangsungan proses belajar ribuan santri dan siswa.
Kerusakan sarana pendidikan ini terjadi di tengah luasnya dampak bencana yang menjangkau 18 kabupaten/kota, 200 kecamatan, dan 3.103 gampong di Aceh. Lebih dari 2,58 juta jiwa tercatat terdampak, dengan 257.614 jiwa kini harus bertahan di 1.008 titik pengungsian.
Ironisnya, di saat pendidikan seharusnya menjadi ruang pemulihan psikososial bagi anak-anak terdampak bencana, justru gedung sekolah dan pesantren ikut lumpuh. “Kita tahu, tanpa ruang kelas yang layak, risiko putus sekolah, penurunan kualitas belajar, dan hilangnya rasa aman bagi anak-anak semakin nyata,” katanya.
Selain sarana pendidikan, fasilitas publik lainnya juga mengalami kerusakan besar. Pemerintah mencatat 227 unit perkantoran, 638 tempat ibadah, dan 180 fasilitas kesehatan (RS/PKM) terdampak. Infrastruktur vital seperti 1.593 titik jalan dan 468 jembatan rusak, memperparah akses menuju sekolah dan pusat layanan pendidikan darurat.
“Sektor pemukiman pun tak kalah suram. 145.186 unit rumah terdampak, dengan 44.682 unit rusak berat atau hilang, kondisi yang memaksa banyak keluarga—termasuk pelajar—hidup di pengungsian,” katanya.
Data ini menjadi peringatan keras bahwa pemulihan Aceh tidak bisa hanya berfokus pada fisik bangunan dan ekonomi, tetapi harus menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama rehabilitasi dan rekonstruksi. “Tanpa langkah cepat, terukur, dan transparan, bencana ini berpotensi meninggalkan krisis generasi yang dampaknya jauh lebih panjang daripada kerusakan bangunan itu sendiri,” pungkasnya.











