Esai

Teddy di Warung Rakyat, Berbaur Tanpa Sekat

Avatar
×

Teddy di Warung Rakyat, Berbaur Tanpa Sekat

Sebarkan artikel ini
Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya di Batang Toru, Tapanuli Selatan. [Foto: Seskab]

Byklik.com | Spirok – Sore itu, tak ada protokoler berlapis. Tak ada jarak. Hanya bangku kayu, meja sederhana, dan secangkir kopi hangat di sebuah warung pinggir jalan Kabupaten Tapanuli Selatan.

Di sanalah Sekretaris Kabinet Letkol Teddy Indra Wijaya duduk, menyatu dengan warga. Menjelang Tahun Baru 2026, ia memilih cara paling jujur untuk melihat keadaan: datang langsung, duduk bersama, dan merasakan sendiri denyut kehidupan masyarakat.

Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan, sempat berkata bahwa UMKM dan warung-warung rakyat telah kembali berjalan seperti biasa. Teddy tidak sekadar mencatat. Ia ingin memastikan.

“Saya mau buktikan,” ucapnya singkat.

Jawabannya hadir tanpa perlu laporan panjang. Warung itu ramai. Kopi terus diseduh. Percakapan mengalir. Warga datang silih berganti, sebagian hanya ingin menyapa, sebagian lain berhenti lebih lama—ingin mengabadikan momen.

Baca Juga  Mendagri Akui 12 Wilayah di Sumatra Belum Pulih Pascabencana

Teddy tak beranjak. Ia tak menunjukkan tanda lelah. Satu per satu permintaan foto dilayani dengan sabar. Bukan hanya anak-anak dan remaja, tetapi juga ibu-ibu, bapak-bapak, hingga warga yang sekadar ingin berdiri di sampingnya sejenak. Senyum tak lepas dari wajahnya. Tangan menangkup, kepala sedikit menunduk, gestur sederhana yang membuat warga merasa dihargai.

Di sudut lain, aparat TNI duduk setara bersama masyarakat. Tak ada meja pembatas kekuasaan. Yang ada hanyalah kebersamaan—kopi yang diseruput perlahan, tawa yang lepas, dan rasa aman yang tumbuh tanpa dikomando.

Baca Juga  Pulihkan Komunikasi Pascabencana, Pemerintah Tambah 280 Starlink

Bagi warga, momen itu bukan sekadar foto bersama pejabat negara. Ia menjadi penanda bahwa negara benar-benar hadir. Datang tanpa jarak. Mendengar tanpa tergesa. Melihat tanpa kacamata formalitas.

Sore menjelang malam, kopi pinggir jalan itu menjelma simbol. Bahwa pemulihan pascabencana di Tapanuli Selatan bukan hanya deret angka dan laporan, tetapi kehidupan yang kembali bergerak, ekonomi rakyat yang berembus pelan namun pasti.

Di ujung tahun, ketika banyak orang bersiap menyambut pergantian waktu dengan gemerlap, sebuah warung sederhana menjadi saksi: masyarakat bisa merasakan dengan nyata ketika pejabat negara hadir tanpa sekat.