ByKlik.com | Lhoksukon – Jumlah korban meninggal dunia akibat banjir di Kabupaten Aceh Utara kembali bertambah. Laporan terbaru dari Pusat Informasi Posko Bencana Banjir BPBD Aceh Utara per 18 Desember 2025 pukul 21.00 WIB, menujukkan korban meninggal menjadi 168 orang dari sebelumnya 166. Sementara itu, jumlah pengungsi tercatat menurun tipis dibandingkan laporan sebelumnya.
“Benar ada dua korban baru yang dirilis BPBD Aceh Utara,” kata Juru Bicara Pemerintah Aceh Utara, Tgk. Muntasir Ramli kepada ByKlik.com, Jumat (19/12/2025).
Banjir telah berdampak pada 124.514 kepala keluarga (KK) atau 432.179 jiwa yang rumahnya terendam di berbagai wilayah. Dari jumlah tersebut, 20.040 KK dengan total 70.866 jiwa masih bertahan di lokasi pengungsian. Angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan data sebelumnya yang mencatat 18.858 KK atau 71.637 jiwa mengungsi, seiring mulai surutnya genangan di sejumlah kawasan.
“Ada beberapa keluarga yang sudah bisa kembali ke rumah-rumah mereka. Namun, mereka yang masih mengungsi sangat membutuhkan tenda. Mereka sudah tidak memiliki rumah,” kata Muntasir.
Selain itu, kebutuhan mendesak lainnya, sebut muntasir berupa genset, susu, pampers, pembalut, lauk pauk, makanan bergizi, obat-obatan, air bersih, sanitasi, dan gas elpiji. “Kami juga sangat membutuhkan alat berat untuk mempercepat proses pembukaan jalan untuk kelancaran distribusi logistik,” katanya.
Sampai saat ini, dari data yang dirilis BPBD tercatat 6 orang masih dinyatakan hilang, sementara 1.777 orang mengalami luka-luka dan membutuhkan perawatan. Kelompok rentan menjadi perhatian utama, dengan rincian 1.284 ibu hamil, 8.786 balita, 5.871 lansia, serta 392 penyandang disabilitas yang terdampak langsung bencana.
Pemerintah daerah bersama BPBD dan unsur terkait terus mengoperasikan 219 titik lokasi pengungsian serta memperkuat layanan darurat, khususnya bagi kelompok rentan. Petugas di lapangan juga terus melakukan pemutakhiran data korban dan pengungsi, seiring dinamika kondisi banjir yang masih berpotensi berubah.
“Kami berharap agar Pemerintah Pusat dan lembaga kemanusian lainnya bisa segera membangun hunian sementara untuk pengungsi,” tutup Muntasir.











