Byklik.com | Banda Aceh – Masyarakat yang bermukim di kawasan rawan bencana di Aceh diminta meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim hujan. Imbauan ini disampaikan di tengah proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana yang masih berlangsung, sementara sejumlah infrastruktur pengendalian banjir belum rampung dibangun.
Kepala Posko Wilayah (Kaposwil) Aceh Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatra, Safrizal, mengatakan curah hujan tinggi dapat menambah tantangan dalam proses pemulihan. Infrastruktur yang belum selesai berpotensi membatasi upaya pengendalian banjir ketika debit air sungai meningkat.
Safrizal meminta masyarakat memperhatikan informasi cuaca dan peringatan dini yang disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Warga yang menerima peringatan darurat diimbau segera menuju tempat aman yang telah disiapkan aparat setempat.
“Kalau terjadi peringatan darurat, segera menyelamatkan diri di tempat-tempat yang sudah disiapkan oleh aparatur. Jadi, sekali lagi, perhatikan early warning dari BMKG yang memberikan kita informasi setiap hari,” kata Safrizal, Senin, 12 Oktober 2026.
Ia juga meminta petugas di lapangan meningkatkan kesiapsiagaan dan segera menindaklanjuti laporan kedaruratan untuk meminimalkan risiko terhadap masyarakat.
Di tengah ancaman tersebut, sejumlah pekerjaan pengendalian banjir masih berlangsung di kawasan Krueng Peusangan, Aceh Tamiang, dan Aceh Utara. Penanganan dilakukan melalui pengelolaan aliran sungai dari hulu hingga hilir serta rencana pembangunan sabo dam untuk menahan dan memperlambat aliran material serta air.
Khusus di kawasan Krueng Peusangan, direncanakan pembangunan empat sabo dam yang membentang dari wilayah Aceh Tengah hingga kawasan hilir. Namun, pelaksanaan proyek masih berada pada tahapan berbeda. Sebagian masih dalam proses lelang, sedangkan proyek lainnya mulai dikerjakan.
Safrizal menjelaskan, pembangunan infrastruktur pengendalian banjir membutuhkan waktu sehingga tidak seluruh pekerjaan dapat diselesaikan dalam satu tahun anggaran. Kondisi ini membuat sejumlah bangunan belum dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menghadapi potensi hujan lebat.
Selain meningkatkan risiko banjir, kenaikan permukaan air sungai juga berpotensi menghambat pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi, terutama pembangunan tebing sungai di Gayo Lues, Bener Meriah, dan kawasan Krueng Peusangan.
“Kita berharap ini tidak berlama-lama, karena akan membuat proyek pekerjaan tebing itu menjadi ter-delay,” ujarnya.
Safrizal berharap tim teknis dapat mengantisipasi dampak hujan agar pekerjaan pemulihan tidak mengalami keterlambatan berkepanjangan. Ia menegaskan, kesiapsiagaan petugas dan kewaspadaan masyarakat menjadi faktor penting untuk mengurangi risiko bencana selama musim hujan, terutama ketika pembangunan infrastruktur pascabencana belum sepenuhnya rampung.











