Humaniora

Cara Mahasiswa Aceh di Jerman Menebar Manfaat dan Kolaborasi

×

Cara Mahasiswa Aceh di Jerman Menebar Manfaat dan Kolaborasi

Sebarkan artikel ini
Agenda duek pakat IMAN 2026. Foto: ist

Byklik.com | Berlin–Menjalani kehidupan di perantauan ribuan kilometer jauhnya dari tanah kelahiran bukanlah hal yang mudah. Bagi mahasiswa dan diaspora Aceh di Jerman, jarak dan perbedaan zona waktu tak lantas mengikis kehangatan silaturahmi. Lewat wadah Ikatan Mahasiswa Aceh di Jerman (IMAN), mereka tak hanya saling merangkul di negeri perantauan, tetapi juga terus merajut kebaikan yang dampaknya mengalir hingga ke Tanah Rencong.

Dalam beberapa pekan terakhir, IMAN aktif memprakarsai serangkaian agenda produktif yang memadukan pengembangan karier, spiritualitas, hingga aksi sosial nyata.

Melihat tingginya minat anak muda Indonesia untuk menimba ilmu dan berkarier di Eropa, Divisi Akademik, Karier, dan Pengembangan SDM IMAN menggelar sharing session bertajuk “Pendidikan Vokasi & Karier di Jerman” pada Rabu (7/10/2026) secara daring.

Ketua IMAN, Muhammad M. Khayri, menyampaikan bahwa kegiatan ini diniatkan untuk membuka pintu informasi selebar-lebarnya bagi siapa saja yang ingin mengenal lebih jauh sistem pendidikan vokasi (ausbildung) di Jerman.

“Melalui kegiatan ini, IMAN berupaya menjadi wadah informasi dan ruang diskusi bagi masyarakat Indonesia yang ingin mengenal lebih jauh sistem pendidikan vokasi dan peluang karier di Jerman,” ujar Khayri, Minggu, 11 Oktober 2026 melalui pesan tertulis.

Baca Juga  Posyandu Jadi Garda Terdepan Cegah Stunting dan Tingkatkan Kesehatan Anak

Dipandu oleh Nurhasanah, S.Pd. (alumni Euro Schule Sindorf), sesi ini menghadirkan Aldi Koswara yang membagikan pengalaman suka-duka menempuh pendidikan vokasi juru masak di Kuratorium Wohnung im Alter (KWA) Stift am Parksee, München. Kehangatan diskusi terbangun saat peserta antusias menggali tip praktis, di mana Aldi menekankan pentingnya penguasaan bahasa Jerman serta kejelasan tujuan awal sebagai fondasi utama sebelum melamar program Ausbildung.

Tak hanya berorientasi pada pengembangan akademis dan profesional, IMAN juga memupuk nilai-nilai keagamaan. Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW pada Minggu (27/9/2026) lalu, IMAN bergandengan tangan dengan Kesatuan Mahasiswa Aceh (KMA) Libya serta berbagai organisasi kepemudaan dan kampus dalam kajian daring bertema “Sirah Nabawiyah, Pondasi Kehidupan”.

Menghadirkan Muhammad Ghusan Azry, S.Pd., M.Pd. (mahasiswa S-2 International Islamic Call University, Tripoli) dan dimoderatori oleh Nur Rachmawati, S.Hub.Int., M.Sos., kajian ini mengajak para peserta menjadikannya refleksi hidup. Sirah Nabawiyah dibedah bukan sekadar sebagai catatan sejarah, melainkan petunjuk praktis dalam membangun pribadi, hubungan sosial, dan kontribusi nyata kepada masyarakat.

Baca Juga  Lestari Desak Perlindungan Ketat Perempuan Anak di Ruang Digital

Kolaborasi lintas negara dan organisasi ini menjadi bukti nyata bahwa semangat kebersamaan masyarakat Aceh dapat melintasi batas geografis.

Nurhasanah, yang juga pengurus IMAN, mengatakan, perjalanan IMAN terus berkembang secara dinamis. Jika dahulu keanggotaannya didominasi oleh mahasiswa aktif, kini IMAN juga merangkul para alumni yang telah meniti karier di Jerman. Dinamika ini memperkaya kontribusi organisasi, mulai dari penerbitan buku antologi karya warga Aceh di Jerman saat acara musyawarah tahunan (duek pakat), hingga penyelenggaraan program sosial berkelanjutan seperti Sedekah Jumat, yang saat ini telah memasuki edisi ke-11, serta program Celengan Ramadan.

Penguatan publikasi dan hadirnya ruang-ruang diskusi digital yang digerakkan oleh Divisi Media, Publikasi, dan Digital IMAN semakin mempertegas peran organisasi ini sebagai simpul penghubung.

Bagi para anggotanya, IMAN bukan sekadar wadah berorganisasi di tanah perantauan, melainkan ruang untuk menjaga identitas kebudayaan Aceh sekaligus media untuk terus menebar manfaat kembali ke kampung halaman. Melalui jangkauan informasi yang makin terbuka, IMAN berharap dapat terus menjadi jembatan inspirasi bagi generasi muda Aceh yang bermimpi melangkahkan kaki ke panggung global.[]