Byklik.com | Kuala Simpang – Sebanyak 424 unit hunian tetap (huntap) mulai dibangun di Kabupaten Aceh Tamiang untuk menyediakan tempat tinggal bagi masyarakat terdampak bencana. Pemerintah kabupaten bersama pemerintah pusat menargetkan pembangunan di dua kampung di Kecamatan Bandar Pusaka itu rampung pada akhir 2026.
Pembangunan hunian relokasi terpusat tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Bupati Aceh Tamiang, Armia Pahmi, bersama Deputi Bidang Koordinasi Pembangunan Perumahan dan Sarana dan Prasarana Permukiman Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Ronny Hutahayan, serta Kepala Posko Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Wilayah Aceh, Safrizal, di Kampung Perkebunan Alur Jambu, Kecamatan Bandar Pusaka, Kamis, 8 Oktober 2026.
Bupati Armia mengatakan, pembangunan huntap merupakan upaya pemerintah untuk menyediakan tempat tinggal yang layak bagi masyarakat terdampak bencana. Untuk mendukung proyek tersebut, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang telah menyiapkan lahan serta menjalin kerja sama dengan perusahaan perkebunan, pemerintah kampung, dan masyarakat setempat.
“Pembangunan huntap ini tidak hanya berfokus pada fisik rumah, tetapi juga penyediaan prasarana, sarana, dan utilitas umum, seperti akses jalan, jaringan sanitasi, drainase, hingga fasilitas pendukung lainnya,” kata Armia.
Berdasarkan lokasi pembangunan, sebanyak 246 unit huntap akan dibangun di Kampung Babo dengan luas lahan 13 hektare. Sementara itu, 178 unit lainnya dibangun di Kampung Perkebunan Alur Jambu di atas lahan seluas 10 hektare.
Armia meminta jajaran dinas teknis, camat, dan datok penghulu mengawal proses pembangunan agar berjalan sesuai jadwal, tepat sasaran, dan memenuhi standar kualitas. Ia juga mengimbau para penerima manfaat untuk merawat hunian setelah ditempati agar dapat digunakan dalam jangka panjang.
Sementara itu, Ronny Hutahayan menegaskan bahwa kesiapan sarana dan utilitas dasar harus menjadi perhatian sebelum warga menempati hunian tersebut. Fasilitas yang perlu dipastikan tersedia antara lain listrik, air bersih, dan akses jalan menuju kawasan permukiman.
“Kami meminta pihak pelaksana mengerjakan proyek dengan cepat, menjaga mutu pengerjaan, dan mengutamakan keselamatan kerja. Segala kendala teknis seperti pasokan material maupun tenaga kerja harus segera dikoordinasikan agar target selesai akhir tahun 2026 tercapai,” ujar Ronny.
Kepala Posko Satgas PRR Wilayah Aceh, Safrizal, mengatakan pembangunan huntap tersebut dilaksanakan melalui kerja sama lintas instansi, termasuk Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman serta satuan tugas yang menangani percepatan pemulihan pascabencana.
Peletakan batu pertama itu turut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh Tamiang, perwakilan Pemerintah Aceh, dan jajaran Satuan Kerja Perangkat Kabupaten (SKPK).
Kegiatan ditutup dengan penyerahan bantuan bahan pokok secara simbolis kepada warga penerima manfaat.***











