Byklik.com | Lhokseumawe – Universitas Malikussaleh (Unimal) kembali menyambut mahasiswa asing melalui program Joint Cultural Camp Fall 2026 (JCCF). Kegiatan selama enam hari, 4–10 Oktober 2026, tersebut merupakan hasil kolaborasi Unimal dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.
Mengusung tema “Aceh Lon Sayang: Exploring Culture to Rise Beyond Disaster”, program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat internasionalisasi perguruan tinggi sekaligus memperkenalkan budaya Indonesia, khususnya Aceh, kepada mahasiswa internasional yang mengikuti program pertukaran di ITS.
Ketua Pelaksana JCCF 2026, Sisca Olivia MS, mengatakan Unimal kembali mendapat kepercayaan dari ITS sebagai salah satu tuan rumah Joint Cultural Camp. Keterlibatan tersebut menjadi kali ketiga Unimal dipercaya menjadi tuan rumah program serupa.
“Pada tahun 2024, Universitas Malikussaleh terpilih sebagai salah satu universitas tuan rumah Joint Cultural Camp yang diselenggarakan oleh ITS Surabaya. Tahun ini, kami kembali mendapat kehormatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan Joint Cultural Camp Fall Semester 2026,” kata Sisca saat memberikan sambutan di Aula Cut Meutia, Kampus Bukit Indah, Lhokseumawe, Senin, 5 Oktober 2026.
Menurut Sisca, Joint Cultural Camp dirancang sebagai program pengenalan budaya Indonesia kepada mahasiswa internasional melalui pengalaman secara langsung.
Para peserta tidak hanya mengikuti kegiatan akademik, tetapi juga diajak mengenal kehidupan sosial, sejarah, tradisi, kuliner, hingga kearifan lokal di daerah yang menjadi lokasi pelaksanaan.
Pada JCC Fall 2026, terdapat empat lokasi yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan, yakni Nglanggeran, Gunungkidul, Yogyakarta; Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta; Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta; serta Universitas Malikussaleh di Aceh.
Khusus selama berada di Unimal, mahasiswa internasional akan diajak menjelajahi Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara melalui sejumlah kegiatan, antara lain city tour, heritage tour, craft tour, dan culinary tour.
“Melalui berbagai kegiatan tersebut, para peserta diharapkan dapat merasakan dan mendalami pengalaman budaya Aceh secara langsung, bukan hanya mengenalnya melalui informasi atau teori,” tuturnya.
JCCF 2026 di Unimal diikuti lima mahasiswa internasional dan satu relawan dari ITS. Para mahasiswa tersebut berasal dari INSA Lyon, Prancis; Northern Alberta Institute of Technology, Kanada; serta Hogeschool Utrecht, Belanda.
Sebanyak 11 mahasiswa internasional Unimal asal Kamboja juga turut bergabung dalam rangkaian kegiatan. Kehadiran mereka diharapkan memperkaya interaksi dan pertukaran pengalaman lintas budaya selama program berlangsung.
Sisca menyampaikan selamat datang kepada seluruh peserta dan berharap pengalaman selama berada di Aceh menjadi kenangan berharga sekaligus membuka kesempatan bagi mereka untuk kembali berkunjung ke Aceh.
“Kami berharap kunjungan ini tidak hanya menjadi pengalaman pertama bagi para peserta dalam mengenal Aceh, tetapi juga dapat menginspirasi mereka untuk kembali berkunjung ke Aceh di masa mendatang,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, Perencanaan, Informasi, dan Kerja Sama (AKPK) Unimal, Dr. T. Nazaruddin, mengatakan JCCF 2026 merupakan bagian penting dari upaya membangun lingkungan akademik yang semakin internasional di Universitas Malikussaleh.
Nazaruddin menyampaikan apresiasi kepada pimpinan universitas, para dekan, ketua jurusan, ketua program studi, dosen, mentor, serta seluruh panitia yang mendukung pelaksanaan program tersebut.
Ia juga memberikan apresiasi khusus kepada Kantor Urusan Internasional (KUI) Unimal dan seluruh panitia yang dinilai telah bekerja secara profesional dalam mempersiapkan dan melaksanakan kegiatan.
“Dedikasi, profesionalisme, kerja sama tim, serta upaya tanpa lelah yang telah diberikan dalam mempersiapkan dan melaksanakan program ini sangat kami apresiasi,” sebutnya.
Menurut Nazaruddin, keterlibatan sejumlah program studi, khususnya Teknik Informatika, Teknik Elektro, dan Teknik Sipil, turut memperkuat pelaksanaan program internasional tersebut.
Ia mengatakan Joint Cultural Camp tidak sekadar menjadi kegiatan pertukaran budaya, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami perbedaan, menghargai keberagaman, membangun komunikasi, dan memperluas jejaring internasional.
“Indonesia, khususnya Aceh, memiliki sejarah yang kaya, tradisi yang unik, warisan budaya yang beragam, serta kearifan lokal yang kuat. Melalui program ini, kami berharap para peserta dapat mengenal budaya Aceh secara lebih dekat, mulai dari tradisi, kuliner, kesenian, sejarah, hingga nilai-nilai yang membentuk kehidupan masyarakat Aceh,” ungkapnya.











