Hiburan & Budaya

Tet Leumang, Solidaritas Sosial di Aceh Menjelang Ramadan

×

Tet Leumang, Solidaritas Sosial di Aceh Menjelang Ramadan

Sebarkan artikel ini
Dr. (Cand) Kaipal Wahyudi, S.j., S.Hum., M.Ag.

Oleh Dr. (Cand) Kaipal Wahyudi, S.j., S.Hum., M.Ag.

Menjelang bulan suci Ramadan, hampir setiap sudut di Aceh dipenuhi aroma khas yang menggoda selera: gurihnya santan berpadu dengan wangi beras ketan yang dibakar. Inilah ciri kuat dari tradisi tet leumang, kebiasaan turun-temurun masyarakat Aceh dalam menyambut bulan suci Ramadan. Melalui tet leumang, nilai gotong royong, silaturahmi, dan rasa syukur terus dirawat sebagai warisan budaya yang telah lama sejak masa Kesultanan Aceh Darussalam. Tradisi membakar lemang ini bukan sekadar soal kuliner, melainkan menjadi simbol kebersamaan dan solidaritas sosial, sekaligus penanda identitas sosial-keagamaan masyarakat Aceh yang tetap hidup dari generasi ke generasi.

Tet leumang memang terlihat sederhana, tapi setiap prosesnya sarat akan makna. Beras ketan dicampur santan dan sedikit garam, dimasukkan ke dalam bambu muda yang dilapisi daun pisang, lalu dibakar dengan bara api hingga matang. Proses ini membutuhkan kesabaran dan kerja sama. Warga, tetangga, dan keluarga bahu-membahu menjaga api, membolak-balik bambu, sambil bercengkerama menunggu lemang matang. Aktivitas ini bukan sekadar memasak, tetapi juga momen silaturahmi: anak-anak belajar arti kebersamaan, orang tua menanamkan nilai gotong royong, dan warga membangun ikatan yang semakin erat.

Hasil lemang tak hanya dinikmati sendiri. Setelah matang, lemang dibagikan kepada tetangga, kerabat, bahkan tamu yang datang berkunjung. Tradisi ini menegaskan nilai peumulia jamee, memuliakan tamu, yang menjadi ciri khas sosial masyarakat di Aceh. Di beberapa tempat, lemang juga dijadikan buah tangan bagi keluarga atau kerabat yang pulang dari perantauan, atau dibeli di pasar tradisional sebagai bentuk perhatian dan berbagi. Dengan begitu, lemang bukan sekadar kuliner, tetapi menjadi medium mempererat hubungan sosial dan menjaga kebersamaan antarwarganya.

Di Pidie dan Pidie Jaya, lemang dibakar dengan kayu bakar tradisional, menghadirkan suasana khas yang sarat nilai budaya. Tradisi ini mencapai puncaknya kemeriahan pada bulan Maulid Nabi Muhammad saw, terutama di Kecamatan Tangse, ketika lemang disiapkan secara massal dan dibagikan kepada para tamu kenduri sebagai simbol syukur dan penghormatan. Praktik ini sekaligus menegaskan nilai peumulia jamee, yakni memuliakan tamu sebagai bagian penting dari etika sosial masyarakat Aceh.

Di Bireuen dan Lhokseumawe, lemang lebih sering dijumpai di pasar tradisional, menjadi kuliner favorit menjelang berbuka puasa. Di Aceh Utara dan Aceh Timur, lemang dimasak secara komunal untuk keluarga besar, menegaskan nilai kebersamaan. Tradisi ini biasanya digelar menjelang Ramadan, bersamaan dengan meugang, yaitu penyembelihan hewan. Sementara di Langsa dan Aceh Tamiang, lemang memiliki variasi rasa yang sedikit mirip dengan Sumatera Utara, namun tetap gurih dan khas Aceh. Bahkan pada Idulfitri dan Iduladha, lemang tetap menjadi hidangan khas, menegaskan posisinya sebagai kuliner tradisional yang sarat makna sosial dan keagamaan.

Di dataran tinggi Gayo, mencakup Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues, tradisi teut leumang atau bakar lemang dikenal luas, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri. Dalam bahasa sehari-hari masyarakat Gayo, kegiatan ini disebut mulemang atau mungat leumang, yang merujuk pada proses memasak beras ketan dengan santan di dalam bambu. Tradisi ini bukan sekadar membuat makanan, tetapi juga bagian dari memuliakan tamu dan momen menyambut hari besar seperti meugang, sekaligus menunjukkan akulturasi budaya Alas-Gayo di Aceh Tenggara (Kutacane-Alas), di mana lemang disajikan di setiap rumah untuk tamu saat Lebaran. Bahan utamanya meliputi beras ketan (pulut), santan kelapa, dan bambu muda, yang dilapisi daun pisang dan dibakar dengan teknik tradisional hingga matang, menghasilkan aroma khas dan tekstur gurih. Lemang di Takengon menjadi menu berbuka puasa yang gurih, sering dinikmati bersama selai srikaya atau kuliner lokal Gayo lainnya.

Baca Juga  Monolog “Tubuh yang Tak Pernah Takluk” akan Dipentaskan di Rumah Cut Nyak Dhien

Di wilayah barat selatan, Aceh Jaya dan Aceh Barat, tet leumang biasanya digelar di dekat meunasah. Proses membakar lemang menjadi ruang sosial yang hangat: warga berkumpul di halaman rumah atau meunasah, bercengkerama sambil menunggu lemang matang. Sementara di Meulaboh dan sekitarnya, lemang juga diproduksi dalam jumlah lebih besar untuk dijual di pasar tradisional, menjadi sumber penghasilan tambahan bagi warga menjelang Ramadan sekaligus memperkuat tradisi lokal.

Di Nagan Raya, lemang dikenal dengan sebutan leumang padé. Orang tua dan anak-anak membuatnya bersama, menjadikannya sarana pembelajaran sosial bagi generasi muda. Nilai gotong royong, kebersamaan, dan penghormatan terhadap leluhur secara alami ditanamkan melalui tradisi ini. Sementara di Aceh Barat Daya (Abdya), tet leumang biasanya disertai meugang dan kenduri kecil. Saat beras ketan dimasukkan ke bambu, warga sering menyertakan doa agar lemang membawa keberkahan, menjadi sumber tenaga selama berpuasa, sekaligus pelengkap hidangan pada hari raya.

Di Aceh Selatan, terutama di kalangan masyarakat Aneuk Jamee, tet leumang dikenal dengan sebutan malamang. Kegiatan ini sarat dengan nilai adat dan kebersamaan. Lemang bukan sekadar makanan, melainkan simbol persatuan keluarga dan kesiapan lahir-batin menyambut Ramadan. Sebuah ungkapan filosofis masyarakat setempat berbunyi:

Adek poe, boh hate lon, kajeut woe, leumang na, daging na, manok na, kajeut ta pajoh sama-sama.

Yang bermakna bahwa anggota keluarga yang merantau dipanggil pulang karena leumang dan hidangan lainnya telah disiapkan. Tradisi ini menegaskan kerinduan keluarga, kesiapan rumah dan hati, serta kewajiban sosial untuk berbagi, menjadikan malamang lebih dari sekadar kuliner, ia adalah pengikat nilai kekeluargaan dan kebersamaan masyarakat Aceh Selatan.

Kemudian berlanjut ke Aceh Singkil hingga Subulussalam, di mana lemang dikenal dengan sebutan simemalum atau simanis. Terbuat dari beras ketan, santan, gula aren, dan durian, lemang ini menghadirkan cita rasa manis-gurih yang khas. Saat musim durian tiba, simemalum menjadi sajian utama, tidak hanya memperkaya rasa, tetapi juga memperkuat tradisi berbagi dan kebersamaan di masyarakat. Hal ini menjadikannya simbol kearifan lokal yang tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus menegaskan peran tet leumang sebagai perekat sosial dan identitas budaya di Aceh.

Warisan Turun-Temurun

Meski memiliki variasi bentuk dan cara penyajian, tet leumang tetap dijaga dan diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini hadir menjelang Ramadan, meugang, Idulfitri, Iduladha, serta berbagai momen sosial-keagamaan lain seperti khitanan dan pernikahan. Kehadirannya menegaskan pengaruh tradisi Melayu pesisir, yang menekankan solidaritas sosial, kebersamaan, dan semangat saling berbagi antarwarga, menjadikan leumang lebih dari sekadar kuliner, ia adalah perekat sosial dan identitas budaya masyarakat Aceh.

Baca Juga  Kepanikan bank mereda di Wall Street. Selanjutnya: Kepanikan Fed

Bagi masyarakat Aceh, lemang bukan sekadar makanan, melainkan medium sosial yang menghubungkan nilai keagamaan, ikatan keluarga, dan solidaritas lintas generasi. Ungkapan masyarakat bahwa lemang tak tergantikan oleh hari, bulan, atau tahun menegaskan makna emosional dan spiritual yang kuat dalam tradisi ini.

Sebagaimana tercermin dalam ungkapan Aceh, “uroe get, buleun get, leumang mak peuget hana meuteumè rasa”, yang bermakna bahwa hari dan bulan baik telah tiba, akan tetapi lemang buatan ibu belum dirasa. Ungkapan ini menekankan kedalaman hubungan budaya, kasih sayang, dan kerinduan keluarga, sekaligus menegaskan makna tradisi makan lemang bersama keluarga dalam kehidupan masyarakat di Aceh.

Keberagaman praktik, mulai dari malamang, leumang padé, simemalum, hingga mulemang atau mungat leumang. justru memperkaya identitas budaya Aceh, sekaligus menunjukkan harmonisasi nilai Islam dengan kearifan lokal yang tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

Tet leumang, tradisi kuliner yang menandai solidaritas sosial menjelang Ramadan, menunjukkan bahwa budaya ini jauh lebih dari sekadar makanan. Ia menjadi media penguat kebersamaan keluarga, ikatan komunitas, dan nilai sosial yang telah mengakar sejak era Kesultanan Aceh Darussalam hingga kini. Tradisi ini berjalan beriringan dengan meugang, Idulfitri, Iduladha, kenduri adat, bahkan dalam konsumsi sehari-hari, termasuk saat dicampur dengan durian di beberapa wilayah. Hal ini menegaskan bahwa tet leumang bukan hanya soal rasa, tetapi juga simbol identitas budaya, gotong royong, dan penghormatan terhadap leluhur yang terus diwariskan lintas generasi masyarakat Aceh.

Di Aceh, tet leumang membuktikan sesuatu yang sederhana namun sangat kuat: kuliner lokal mampu menjadi jembatan sosial. Ia bukan sekadar makanan, melainkan ruang kebersamaan yang menyatukan keluarga, mempererat silaturahmi, dan menjaga kearifan lokal tetap hidup di tengah derasnya perubahan zaman. Setiap aroma santan dan ketan yang terbakar seolah menjadi panggilan emosional untuk kembali ke akar budaya, merasakan hangatnya persaudaraan, serta menghargai nilai-nilai leluhur yang terus berdenyut dalam kehidupan masyarakat Aceh.

Tet leumang adalah living tradition, warisan hidup masyarakat Aceh yang terus bergerak mengikuti zaman, namun tetap berpijak pada nilai-nilai endatu. Melestarikannya berarti merawat memori kebersamaan, memperkuat solidaritas sosial, dan menanamkan nilai kekeluargaan kepada generasi muda. Dalam setiap bambu yang dibakar, tersimpan bukan hanya cita rasa, tetapi juga adat, iman, dan identitas Aceh yang terus mengakar menjelang Ramadan, dan tak lekang oleh waktu.

Terakhir, marilah menelusuri Aceh untuk melihat keunikan budaya, bahasa, dan adatnya, termasuk salah satunya ialah tet leumang. Tradisi ini unik dan istimewa, bukan hanya karena cita rasanya yang gurih dan wangi, tetapi juga karena cara penyajiannya yang selalu sarat kebersamaan. Dari pesisir timur, dataran tengah Gayo, hingga Barat Selatan Aceh, lemang selalu menjadi momen berkumpul: keluarga duduk bersama, tetangga saling berbagi, dan nilai kekompakan tetap terjaga menjelang hari-hari keagamaan di Aceh.[]

Penulis adalah mahasiswa Program Doktor (S-3) Studi Islam, Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

 

Editor: Ihan Nurdin