HeadlineInternasional

Rafah Dibuka Terbatas, Harapan Baru bagi Warga Gaza

Bambang Iskandar Martin
×

Rafah Dibuka Terbatas, Harapan Baru bagi Warga Gaza

Sebarkan artikel ini
Gerbang Rafah (Sumber: FPIK)

Byklik.com | Rafah, Palestina – Pintu perbatasan utama antara Jalur Gaza dan Mesir di Rafah kembali dibuka secara terbatas pada Senin, 2 Februari 2026, setelah ditutup lebih dari dua tahun akibat kebijakan keamanan ketat di kawasan perbatasan.

Pembukaan tersebut dilakukan melalui skema pilot operation dan dinilai sebagai tahap awal untuk meningkatkan mobilitas warga di wilayah yang selama ini mengalami blokade serta keterbatasan akses keluar-masuk.

Otoritas perbatasan menyebutkan, gerbang Rafah akan dibuka dua arah dengan kuota terbatas. Pada fase awal, diperkirakan sekitar 100 hingga 150 orang dapat melintas setiap hari. Prioritas diberikan kepada pasien medis, anggota keluarga pendamping, serta warga yang memiliki izin keluar darurat.

Baca Juga  AI untuk Kesetaraan di Tempat Kerja di Indonesia, Mungkinkah?

Langkah ini disambut sejumlah pihak sebagai sinyal positif dalam upaya meredakan tekanan kemanusiaan di Jalur Gaza. Selama konflik berkepanjangan, pembatasan akses telah berdampak signifikan terhadap layanan kesehatan, distribusi obat-obatan, serta masuknya bantuan logistik.

Meski demikian, sejumlah pengamat menilai pembukaan perbatasan ini perlu diikuti dengan dukungan kemanusiaan yang lebih luas. Mereka menekankan pentingnya kelancaran distribusi kebutuhan pokok, obat-obatan, serta pembukaan jalur bantuan internasional yang berkelanjutan.

Baca Juga  Seruan Damai dari New York, Indonesia Desak Pengakuan Kedaulatan Palestina

Para pengamat juga berharap kebijakan ini menjadi pintu masuk bagi dialog yang lebih komprehensif antara pihak-pihak terkait, guna memperbaiki kondisi sosial-ekonomi dan mempercepat pembangunan kembali infrastruktur yang terdampak konflik.

Sementara itu, pemerintah Mesir dan otoritas Gaza menyatakan akan terus memantau perkembangan di perbatasan Rafah, khususnya terkait aspek keamanan dan kelancaran logistik. Di tingkat global, komunitas internasional kembali menegaskan pentingnya penyelesaian damai jangka panjang yang menghormati hak asasi manusia serta hukum internasional.***